Banyak orang tetap berolahraga saat puasa, tetapi tidak sedikit yang keliru menentukan intensitas sehingga tubuh justru mudah lemas atau berisiko cedera.
Dokter spesialis kedokteran olahraga Rumah Sakit Pondok Indah Bintaro Jaya, dr. Risky Dwi Rahayu, M.Gizi, Sp.K.O, menegaskan bahwa kunci olahraga saat Ramadhan bukan pada durasi semata, melainkan pada pengaturan intensitas yang tepat.
“Yang paling penting itu intensitasnya, bukan sekadar lamanya olahraga,” ujar dr. Risky dalam jumpa pers yang diikuti Kompas.com pada Rabu (18/2/2026).
Ia menjelaskan bahwa intensitas yang terlalu tinggi dalam kondisi puasa dapat membuat tubuh tidak hanya membakar lemak, tetapi juga protein dari otot. Untuk mengetahui apakah intensitas latihan sudah berada pada tingkat yang aman, Risky menyarankan metode sederhana yang dikenal sebagai talk test.
Penulis: Nurul Aini (Moara)
Editor: Nakhwatunnida (Kiva)