China Perketat Aturan Penggunaan AI di Drama Pendek

September 10, 2026

Kabar terbaru dari industri hiburan China. Mahkamah Agung China resmi ngeluarin panduan hukum baru buat memperketat penggunaan teknologi AI di industri drama pendek alias microdrama. Fokus utamanya soal praktik face-swapping alias ganti wajah pakai AI dan kloning suara tanpa izin yang makin marak belakangan ini. Langkah ini diambil karena makin banyak kasus pelanggaran hak cipta dan hak atas identitas pribadi di tengah booming-nya format microdrama di sana.

 

Berdasarkan laporan Global Times, regulasi baru ini bikin aturan main jadi lebih tegas dibanding sebelumnya yang cuma sebatas imbauan administratif aja. Sekarang, pakai identitas visual atau suara orang yang bisa dikenali tanpa izin resmi bakal dianggap pelanggaran hukum perdata. Menurut pengacara asal Beijing, Wu Xiaolin, aturan ini jadi standar yang bisa langsung dieksekusi di pengadilan perdata buat ngebatesin gerak-gerik AI deep synthesis yang selama ini agak liar.

 

Pengetatan ini muncul pas pasar drama pendek China lagi gencar banget. Data Badan Radio dan Televisi Nasional setempat mencatat ada 33 ribu drama pendek yang tayang sepanjang 2025, dengan hampir 700 juta penonton domestik. Nilai ekonominya pun tembus 100 miliar yuan alias sekitar Rp261,49 triliun, naik dua kali lipat dibanding capaian tahun sebelumnya. Sayangnya, di balik pertumbuhan pesat itu, banyak oknum produsen berbiaya murah yang main curang pakai AI buat merekayasa wajah dan suara artis top kayak Yang Zi, Xiao Zhan, sampai Dilraba Dilmurat demi ngedongkrak traffic instan.

 

Meski aturannya makin ketat, bukan berarti AI langsung dilarang total. Analis industri Zhang Peng bilang regulasi ini cuma ngebatesin AI biar dipakai sewajarnya, misalnya buat nulis naskah, proses pascaproduksi, atau penyuntingan suara. Dampaknya pun diprediksi nggak cuma kerasa di dalam negeri China aja, karena aplikasi drama pendek asal China udah ekspansi gede-gedean ke Asia Tenggara, Timur Tengah, sampai Amerika Utara, dengan total unduhan tembus 270 juta kali di awal 2025. Jadi wajar kalau aturan ini bakal jadi sorotan banyak pihak di industri hiburan global.

Penulis: Sonia Zumna Jauharoh (Cassie)

Editor: Nakhwatunnida (Kiva)

 

Recent