Dulu R.A. Kartini berjuang lewat surat-suratnya, sekarang kita sebagai Gen-Z bisa nerusin semangat itu lewat konten dan aksi di media sosial. Sebenarnya masih sama soal hak buat menentukan pilihan hidup sendiri. Bedanya cuma di cara sekarang semuanya serba digital dan lebih cepat.
Di zaman sekarang, Kartini bukan cuma sekadar simbol yang diingat pas pakai kebaya setahun sekali, tapi lebih ke pengingat supaya kita tetap berani bersuara soal keadilan. Kesetaraan juga nggak cuma soal bisa sekolah, tapi gimana semua orang punya akses ilmu yang adil tanpa batas. Internet udah kasih peluang itu, tinggal kitanya mau manfaatin atau nggak. Tapi ya, tetap harus kritis juga, jangan asal percaya info yang belum jelas kebenarannya.
Semangat Kartini itu masih relevan banget tiap kali kita berani mikir sendiri dan nggak cuma ikut-ikutan tren. Jadi “Kartini Reborn” menurutku bukan hal yang ribet, tapi cukup jadi diri sendiri, berani bersuara, dan kasih ruang buat orang lain juga didengar. Mulai dari hal kecil, kayak saling menghargai di lingkungan sekitar, itu udah termasuk bagian dari perubahan.
Penulis: Hengki Arga Saputra (Billy)
Editor: Nakhwatunnida (Kiva)