simfonifm

.Upacara selamatan merupakan salah satu tradisi yang dianggap dapat menjauhkan diri dari mala petaka. Selametan adalah konsep universal, diamana di setiap tempat pasti ada dengan nama yang berbeda. Hal ini karena kesadaran akan diri yang lemah di hadapan kekuatan-kekuatan di luar diri manusia. Secara tradisional acara selamatan dimulai dengan doa bersama, dengan duduk bersila di atas tikar, melingkari nasi tumpeng dengan lauk pauk dan sesaji ( kalau ada). Sesaji yang diadakan untuk mengiringi upacara selamatan tersebut, maksud dan tujuannya adalah seperti doa. Intinya adalah bersyukur kepada Gusti, Tuhan dan semoga dengan berkah-Nya, segala tugas akan dilaksanakan dengan selamat, baik, benar dan membawa kesejahteraan dan kemajuan yang lebih baik. Nasi tumpeng komplit sebenarnya mempunyai makna sebagai doa dan sesaji.

Praktik upacara selamatan sebagaimana yang diungkapkan oleh Hildred Geertz pada umumnya dianut oleh kaum Islam Abangan, sedangkan bagi kaum Islam Putihan (santri) praktik selamatan tersebut tidak sepenuhnya dapat diterima, kecuali dengan membuang unsur-unsur syirik yang menyolok seperti sebutan dewa-dewa dan roh-roh. Karena itu bagi kaum santri, selamatan adalah upacara doa bersama dengan seorang pemimpin atau modin yang kemudian diteruskan dengan makan-makan bersama sekadarnya dengan tujuan untuk mendapatkan keselamatan dan perlindungan dari Allah Yang maha Kuasa.

Pada upacara selamatan, yang menjadi pesertanya bukan sekedar dari orang-orang yang masih hidup, tetapi turut juga diundang orang-orang yang sudah mati yang disebut dengan roh-roh leluhur (baca definisi selamatan menurut Clifford Geertz). Yang dimaksud dengan roh-roh leluhur adalah nenek moyang mereka atau para pendahulu mereka yang sudah mati dan pernah berjasa pada mereka. Mereka itu misalnya orang-orang yang telah berjasa dalam mendirikan suatu desa atau cakal bakal desa, yang biasanya kemudian disebut sebagai danyang desa. Selain itu juga orang-orang yang pernah mendirikan suatu kerajaan dan berjasa dalam memakmurkannya. Juga wali sangayang dianggap berjasa dalam menyebarkan Islam di tanah Jawa bahkan Nabi Muhammad sebagai penyebar Islam di seluruh dunia. Di samping itu juga roh-roh leluhur yang menjadi penghuni alam sekitar, misalnya roh penghuni rumah, roh penghuni jembatan, roh penghuni perempatan, roh penghuni sumur, roh penghuni kuburan dan roh-roh yang baik maupun yang jahat semuanya diundang guna dimintai pertolongannya agar berkenan merestui dan tidak mengganggu.

Perkembangan Upacara Selamatan Pada Masa Sekarang. Upacara-upacara selamatan sebagai salah satu wujud budaya, selalu mengalami perubahan-perubahan dan perkembangan-perkembangan. Hal ini disebabkan adanya perubahan pola pikir dari masyarakat pemangku budaya, teknologi dan agama. Perubahan pola pikir, teknologi, dan agama ini akan berpengaruh secara langsung terhadap sarana dan prosesi dalam upacara selamatan. Meskipun demikian namun ternyata masih ada sebagian masyarakat Jawa yang masih mempertahankan nilai-nilai tradisional. Hal tersebut terlihat dengan adanya pelaksanaan berbagai macam upacara, misalnya kematian, pendirian rumah, dan lain-lain, termasuk upacara panggih. Sebagian masyarakat tradisional ini, takut meninggalkan kebiasaan yang telah mengakar dalam segi-segi kehidupan mereka, dan masih setia mempertahankan tradisi peninggalan leluhurnya.

Pada awalnya upacara selamatan dipengaruhi unsur Animisme-Dinamisme yang paling menonjol pada pelaksanaan selamatan, terutama selamatan yang dilaksanakan oleh orang Islam kejawen. Dalam pola umum selamatan yang mereka lakukan, yang terdiri dari peserta selamatan, do’a dan hidangan atau sajian, di dalamnya nampak unsur-unsur Animisme-Dinamisme yang cukup menonjol. Upacara selamatan yang berasal dari kepercayaan Indonesia asli (Animisme-Dinamisme), setelah mendapat pengaruh dari Hindu-Budha, pada perkembangan berikutnya juga mendapat pengaruh dari Islam. Unsur Islam memang tidak begitu menonjol, akan tetapi dalam beberapa hal, Islam cukup besar peranannya dalam memodifikasi selamatan. Dalam beberapa jenis selamatan ada yang mengesankan bahwa selamatan itu seolah-olah dari budaya Islam semata. Lebih-lebih jika yang menyelenggarakan selamatan itu dari kalangan Islam santri. Biasanya dari kalangan santri, praktik selamatan tersebut tidak sepenuhnya dapat diterima, kecuali dengan membuang unsur-unsur syirik yang menyolok seperti sebutan dewa-dewa, roh-roh, dan sesaji. Namun pada masa sekarang, hal tersebut tidak hanya dilakukan oleh para santri saja namun juga hampir seluruh masyarakat jawa tidak mengadakan sesaji pada upacara selamatan. @nadia



Stream & Chatbox