simfonifm

Niat adalah amalan hati (amaliyah qolbiyah) sehingga hanya Allah SWT

dan pribadi masing-masing yang tahu soal niat atau motif seseorang dalam

berbuat, beramal, atau beribadah.

Secara istilah, tidak terdapat definisi khusus untuk niat. Karena itu, banyak

ulama yang memberikan makna niat secara bahasa, semisal Imam Nawawi yang

mengatakan niat adalah bermaksud untuk melakukan sesuatu dan bertekad

bulat untuk mengerjakannya.”

Mengacu kepada hadits shahih, niat adalah motivasi, maksud, atau tujuan

di balik sebuah perbuatan. Rasulullah Saw menyatakan, niat menjadi penentu

pahala sebuah perbuatan. Jika niatnya karena Allah, maka pahalanya dari Allah.

Jika niatnya bukan karena Allah, atau disertai motif lain, maka Allah tidak akan

menerima amalan itu sebagai ibadah.


إنما الأ عمال بالنيات، وإنما لكل امرئ ما نوى

"Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya dan seseorang akan

mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan" (HR Bukhari & Muslim).

Sebagian kita barangkali belum mengetahui bahwasanya dengan niatan

saja untuk beramal (maksudnya: tekad) kuat namun tidak jadi mengamalkan

karena suatu sebab, itu sudah bernilai pahala dan dicatat satu kebaikan.

Bagaimana halnya jika sampai diamalkan. Hal ini menunjukkan bahwa

hendaklah kita bersemangat dalam kebaikan, bahkan bertekad kuat untuk

melakukan banyak amalan sholih.

Dalam hadits qudsi, dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa

sallam bersabda, diriwayatkan dari Allah Ta’ala,

إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ ، ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً ،

فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيرَةٍ

“Sesungguhnya Allah mencatat berbagai kejelekan dan kebaikan lalu Dia

menjelaskannya. Barangsiapa yang bertekad untuk melakukan kebaikan lantas

tidak bisa terlaksana, maka Allah catat baginya satu kebaikan yang sempurna.

Jika ia bertekad lantas bisa ia penuhi dengan melakukannya, maka Allah

mencatat baginya 10 kebaikan hingga 700 kali lipatnya sampai lipatan yang

banyak.” (HR. Bukhari no. 6491 dan Muslim no. 130)

Ibnu Rajab Al Hambali berkata, “Yang dimaksud ‘hamm’ (bertekad) dalam

hadits di atas adalah bertekad kuat yaitu bersemangat ingin melakukan amalan


tersebut. Jadi niatan tersebut bukan hanya angan-angan yang jadi pudar tanpa

ada tekad dan semangat.”(Jaami’ul Ulum wal Hikam, 2: 319)

Perihal bertekad dalam beramal di sini, kita dapat melihat pada hadits

lainnya,


مَنْ سَأَلَ اللَّهَ الشَّهَادَةَ بِصِدْقٍ بَلَّغَهُ اللَّهُ مَنَازِلَ الشُّهَدَاءِ وَإِنْ مَاتَ عَلَى فِرَاشِهِ

“Barangsiapa yang berdo’a pada Allah dengan jujur agar bisa mati syahid, maka

Allah akan memberinya kedudukan syahid walau nanti matinya di atas

ranjangnya.” (HR. Muslim no. 1908).

‘Aisyah radhiyallahu‘anha mengabarkan bahwa Rasulullah bersabda,

مَا مِنِ امْرِئٍ تَكُونُ لَهُ صَلاَةٌ بِلَيْلٍ فَغَلَبَهُ عَلَيْهَا نَوْمٌ إِلاَّ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ أَجْرَ صَلاَتِهِ وَكَانَ نَوْمُهُ صَدَقَةً عَلَيْهِ

“Tidaklah seseorang bertekad untuk bangun melaksanakan shalat malam,

namun ketiduran mengalahkannya, maka Allah tetap mencatat pahala shalat

malam untuknya dan tidurnya tadi dianggap sebagai sedekah untuknya.” (HR.

An Nasai no. 1784, shahih menurut Syaikh Al Albani).

Abud Darda’ berkata, “Barangsiapa mendatangi ranjangnya, lantas ia

berniat ingin shalat malam. Sayangnya, tidur telah mengalahkannya hingga ia

bangun ketika shubuh, maka akan dicatat sebagai kebaikan apa yang ia

niatkan.” (HR. Ibnu Majah secara marfu’. Ad Daruquthni berkata bahwa hadits ini

mawquf. Lihat Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 319). Perkataan Abud Darda’ ini

semakna dengan hadits ‘Aisyah di atas.

Sa’id bin Al Musayyib berkata, “Barangsiapa bertekad melaksanakan

shalat, puasa, haji, umrah atau berjihad, lantas ia terhalangi melakukannya,

maka Allah akan mencatat apa yang ia niatkan.”

Abu ‘Imran Al Juwani berkata, “Malaikat pernah berseru: catatlah bagi si

fulan amalan ini dan itu.” Lantas ia berkata, “Wahai Rabbku, sesungguhnya si

fulan tidak beramal apa-apa.” Lantas dijawab, “Ia mendapatkan yang ia niatkan

(tekadkan).”

Ulama salaf berkata, “Bertekad untuk melakukan kebaikan sudah seperti

orang yang melakukannya.”

Semoga pelajaran ini begitu berharga. Dengan niatan saja, bisa bernilai

kebaikan. Namun ingat sekali lagi, niatan di sini adalah tekad bukan angan-

angan. Sehingga 1000 angan-angan tidaklah bermanfaat karena tidak ada

realisasi atau tidak ada langkah menuju kepada kebaikan. Berbeda halnya

dengan tekad dalam kebaikan, pasti ada persiapan dan langkah yang ingin

ditempuh. Silakan kembali memperhatikan penjelasan Ibnu Rajab di atas.


Semoga Allah memberikan kita semangat untuk dapat terus beramal

sholih sepanjang hayat. Wallahu waliyyut taufiq.


Karya : Sabrina

Tema : Mutiara Hati

Editor : News

Sumber : https://rumaysho.com/2557-cuma- bertekad-sudah- dicatat-satu-

kebaikan.html


http://www.risalahislam.com/2015/10/pengertian-hakikat- niat-

dalam-islam.html



Stream & Chatbox